Hanya Memberi Tak Harap Kembali..

9:18:00 PM 17 Comments A+ a-

Malam ini gw mau bagi cerpen hasil karya gw lagi :D
seperti biasa, gw nemu ni cerpen di flasdisk gw. Kalo cerpen cinta monyet gw bikin buat tugas bahasa Indonesia, kalo cerpen ini gw buat untuk lomba kelas dalam memperingati hari ibu waktu kelas X dulu. Dan cerpen ini bukan dari pengalaman siapa2 karena gw mengarang bebas. entah gw dapet ide cerita dari mana.
Lagi-lagi gw heran kenapa gw dulu bisa mbuat cerpen se melow ini.
Gw baca lagi ni cerpen gak terasa mata gw sampe berkaca2 dan berbeling2 [halah].

Langsung saja
Cekidot..

PENGORBANAN EMAK
by Hanan Mhdsyah



Mak Narti dan Anto adalah salah satu keluarga di perkampungan kumuh dan kotor. Rumah mereka hanya beralaskan tanah,berdinding kardus dan beratapkan jalan layang nan bising. Kardus bekas yang berlumut,robek,dan tak layak pakai menjadi tempat bernaung mereka selama puluhan tahun. Sungguh pemandangan yang sangat kontras dengan berdirinya gedung-gedung pencakar langit yang mengeliling rumah mereka.
            Seperti biasa,Anto selalu membantu emaknya mengais rezeki dari sisa konsumsi masyarakat. Sekedar dapat kardus ataupun bekas botol air mineralpun tak pernah mereka sia-siakan. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain melakoni pekerjaan itu. Kadang terbesit difikiran Anto untuk merubah nasib. Apa gunanya menjadi pemulung terus menerus, sedang tenaganya masih sanggup untuk menopang dan menegakkan tulang-tulang punggungnya.
♦          ♦          ♦

           Nak... apa kamu yakin dengan semua ini? tanya emak.
“Iya mak,tekat Anto ini sudah bulat dan matang, jadi ku mohon agar emak merestui”
“Nak, apa kamu sudah tak sayang lagi sama emak? Emak ini sudah tua nak, emak tidak mau kamu meninggalkan mak sendiri seperti bapakmu itu! Mak sayang kamu... emak gak mau kehilangan orang yang emak sayang untuk yang kedua kalinya”
“Mak, Anto pun sangat sayang sama emak, mak jangan berkata seperti itu. Anto janji mak,Anto tidak akan ngecewain emak.Anto cuma ingin bahagiain emak..cuman itu mak” Pinta Anto sambil menitihkan air mata.
“kalau kau ingin membahagiakan emak,cukup disini saja.Temani mak dan selalu bersama emak itu sudah membuat emak bahagia. Toh cari kerja disini juga tak terlalu buruk nak, perut kau bisa kenyang dan kau dapat selalu bertemu emak. Apakau sudah tak mau tinggal dengan mak lagi nak?”
“Tidak mak, Anto sangat sayang sama emak,sangaaat sayang. Cari kerja disini sama saja dengan masuk kedalam lubang yang sama.Tak ada yang bisa diharapkan! modal tak punya, ijasah SD tak dapat. Melamar pekerjaan bagai mandi tak basah mak, semua akan sia-sia. Paling Anto hanya bisa jadi peliharaan dan budak orang-orang gedongan. Berbeda bila Anto bekerja disana. Kata teman Anto, orang bodoh pun bisa jadi pintar disana, orang dengan ijasah TK-pun bisa jadi orang setingkat senayan. Dan Anto janji mak, kalau Anto menjadi orang yang sukses disana, orang yang pertama Anto bahagiakan adalah emak. Anto akan selalu ingat emak” Bujuk Anto.
Namun emak hanya bisa diam terpaku sambil menitihkan air mata. Emak sudah enggan mengeluarkan kata-kata lagi.
“Maak.. emak jangan menagis mak. Anto janji mak.. dan emak tak usah menghawatirkan Anto, Anto sudah besar mak, 16tahun sudah usia Anto, Anto bisa jaga diri disana dan emak tak perlu memberikan pesangon apapun buat anto, anto dapat pinjaman dari teman dan teman anto yang akan mengantarkan anto sampai tujuan, meskipun cara yang ditempuhnya ilegal, tapi anto yakin akan baik-baik saja mak..”
            “kapan kamu berangkat?” tanya emak.
            “Besok pagi mak... aku  mohon emak merestuinya..”
Entah apa yang dipikirkan emak, emak bergegas membuka lemari dan mengambil sebuah foto. Satu-satunya foto yang mereka miliki, dan emak menyobeknya.
            “Ambillah nak. emak hanya bisa memberikan ini”
            “Ap....apa ini mak?”
“Ini adalah foto kita berdua. Foto ini sengaja emak sobek karena emak ingin memberikannya untukmu. Kamu simpan sebagian foto yang bergambar emak, dan sebagian lagi yang bergambar kamu akan emak simpan. Jagalah baik-baik foto ini nak. Selau simpan dalam hatimu. Jika kau tengah sendirian atau mendapat kesulitan disana, berdoalah!  jangan takut dan jangan menyerah. Pejamkan matamu, sebut nama ibu bapakmu, rasakan kehadirannya dihatimu, karena doaku selalu menyertaimu.”
Merekapun saling berpelukan. Air mata mereka saling pecah mengalahkan suara krik jangkrik pada heningnya malam. Meskipun berat, namun akhirnya emak merelakan anak semata wayangnya pergi meninggalkannya sendiri. Ia selalu berdoa untuk keberhasilan anaknya itu.
♦          ♦          ♦

            12tahun sudah semenjak anak kesayangannya pergi, emak menjalani hari-harinya dengan sepi dan sendiri. Tak ada kabar didengarnya atau sekedar surat yang menanyakan kabarnya. Ia selalu menyendiri, menatap pandangan kosong ke arah daun pintu berharap ada sesosok pria memakai jas dasi nan gagah menghampirinya. Ingin sekali ia pergi menyusulnya. Namun, tubuh rentan serta kantongnya diam tak dapat menjawab semua angannya. Mengumpulkan kayu di hutan adalah rutinitasnya sekarang. Ya, sekarang emak tidak tinggal dikota lagi. Istana kardusnya telah digusur dan dienyahkan karena mengurangi keindahan kota. Terpaksa emak harus mengungsi ke desa asalnya. Disana emak tinggal di sebuah gubuk bekas kandang kambing dekat hutan. Dingin, panas, dan sakit harus ia lewati sendiri.
            Muncul secercah harapan, ketika terdengar kabar sejumlah saudagar kaya dari tanah Jiran tengah singgah di desa emak. Mereka menetap selama beberapa hari di desa itu. Dan salah satu saudagar itu bernama Anto. Emakpun bergegas pergi menuju rumah penginapan para saudagar. Sesampainya disana, emak bertemu dengan seorang penjaga penginapan tersebut.
“Ma..maaf..,bolehkah saya bertemu dengan seseorang yang bernama Anto? Ini penting sekali pak, tolong izinkan saya masuk” pinta emak.
            “Maaf, kalau boleh tahu, Anda mempunyai kepentingan apa disini?”
“Saya..saya... ibunya Anto pak... 12tahun sudah saya merindukan dia.. saya ingin sekali bertemu dia pak”
            “Oh.. baiklah, silahkan masuk bu..silahkan..”
            “Terimakasih pak..terimakasih..”
Emakpun masuk dan segera mencari Anto yang tengah berkumpul dengan teman-teman sejawadnya.
            “An..anto anakku... benarkah itu kau Anto.....?”
            “Emak..” ucap Anto lirih.
“Anto, siapa dia? Apa kau kenal dengan pengemis ini? Mengapa pengemis ini mengaku-ngaku ibu kamu? Jadi ibu kau pengemis toh?” tanya salah satu teman Anto.
“Bu..buu...bukan!! aku tak kenal siapa dia! Dia bukan ibuku! Ibuku sudah mati!” bentak Anto
“Antoo... ini emak nak... ini emak.. emak belum meninggal.. tega sekali kau berkata sekeji itu pada emak..”
“Siapa kau?? Dasar gembel! Tak tahu malu kau datang mengaku-ngaku menjadi ibuku! Apa tujuan kamu? Heh? Uang? benarkan uang? ini uang buat kamu dan sana pergi jauh-jauh!”
Karena malu pada teman-temannya, anto melupakan semua janji-janjinya pada emak. Betapa sakitnya hati emak, bagai ditusuk sepuluh belati yang menembus hati emak. Tak terhitung berapa air mata yang terjatuh disepanjang pejalanan pulang. Ia sungguh tak menyangka dengan kejadian tadi. Sekarang ia hanya bisa pasrah dan berdoa agar Snto dibukakan kembali pintu hatinya.
            7hari telah berlalu. Namun air mata emak belum jua kering. Meskipun emak telah memaafkan Anto, namun bekas luka dihati emak masih menganga. Walaupun demikian, emak tetap sayang pada Anto, karena bagaimanapun juga, Anto adalah buah hati emak, darah daging emak yang selalu menjadi nomor satu buat emak.
            Luka emak tak sampai disitu. Hatinya semakin remuk setelah mendengar bahwa seorang saudagar kaya yang bernama Anto mengalami kecelakaan saat tengah mengendarai mobil. Matanya terkena benda tumpul, sehingga terancam buta permanen. Kebutaan mata yang berawal dari kebutaan hati.
♦          ♦          ♦

            Perban yang menutupi mata Anto itu sudah kering. Perlahan tapi pasti, dokter mulai membuka perban itu. Detak jantung Anto serasa bertambah cepat. Dan dalam hitungan mundur, dokter menyuruh anto untuk membuka matanya. Tiga..... dua...... satu..... dan bahagialah Anto! Matanya kembali berfungsi, penglihatan terang dan berwarna. Namun masih ada penjanggal dalam hati anto yang selama ini ia pendam.
“Dok, kalau boleh saya bertanya, siapakah orang yang rela mendonorkan matanya untuk saya dok? Bolehkah saya bertemu dengan salah satu keluarganya? Saya ingin sekali berterimaksih. Entah dengan apa saya harus balas budi dengannya”
“Emm... begini saudara Anto.. selama anda dirawat di rumah sakit ini, ada seorang wanita tua yang selalu membesuk anda. Ia selalu membawa sekuncup bunga mawar dan meletakkannya di vas bunga dekat tempat tidur anda. Siang hingga malam sampai paginya lagi, ia selalu disisi anda. Tak jarang saya melihat wanita tua itu sholat, mengaji, bertahajud, berdzikir, dan berdoa disini. Disetiap doanya, ia selalu memohon agar anda diberi kesembuhan, bahkan kalau boleh, ia selalu meminta pada Tuhan agar sakit yang anda derita dipindahkan ke tubuhnya agar anda bisa sehat dan bahagia. Ia sepertinya sangat menyayangi anda. Dia rela menahan kantuk, lelah dan lapar demi menjaga anda seorang. Ia sangat menghawatirkan anda. Bahkan..”
“Bahkan.. apa dok?” tanya anto.
“Bahkan wanita tua itu meminta kepada saya agar saya mau mengambil sepasang bola matanya untuk diberikan kepada anda. Namun saya menolak, karena syarat untuk mendonorkan mata adalah pendonor haruslah dari orang yang sudah meninggal serta keluarga pendonor harus mensetujuinya. Tapi wanita tua itu tetap kekeh pada pendiriannya untuk mendonorkan matanya.. dan....”
“Dan apa dok? Ayo ceritakan semuanya pada saya! Ku mohon!” desak anto sambil menangis.
“dan.. wanita tua itu ditemukan tewas di toilet rumah sakit. Dia bunuh diri dengan seutas tali yang melilit lehernya. Namun bukan karena putus asa ia bunuh diri. Di saku celananya, ditemukan sepucuk surat dan wasiat yang berisikan tentang keinginannya mendonorkan sepasang bola matanya untuk anda. Ia bunuh diri agar bisa mendonorkan matanya. Karena andalah satu-satunya kesayangannya, karena andalah satu-satunya harta yang paling berharga buatnya. Dan ia juga berpesan agar anda menjaga bola mata itu. Jangan nodai mata itu dengan tangisan dan kesedihan anda. Karena kebahagiaan anda adalah kebahagiaannya juga. Dan ini adalah surat yang beliau tinggalkan untuk anda”
Sambil membaca surat itu, Anto hanya bisa menangis, diam, lemah tak berdaya. Ia sungguh menyesali perbuatannya waktu itu. Ia belum sempat membahagiakan emak seperti janji-janjinya dulu. Ia belum sempat memeluk, mengucapkan terimakasih dan meminta maaf pada emak. Ingin sekali ia memutar waktu kembali. Namun nasi sudah menjadi bubur, semua itu sudah terlanjur. Hanyalah surat yang emak tinggalkan.


 Anakku.. maafkan bila selama ini emak tak bisa membahagiakanmu.
Maafkan semua kesalahan emak..emak bukanlah orang tua yang baik untukmu. Pantas bila kau benci pada emak nak.. namun, emak ingin kamu tahu, emak sangat sayang padamu, kaulah segalanya bagi emak, kamulah hidup dan mati emak. Emak tak bisa hidup tanpamu. Emak tidak menginginkan apa-apa dari kamu nak. Emak hanya ingin kau bahagia. Itu sudah cukup buat emak. Saat kau baca surat ini, pasti kau sudah sembuh kan nak?. Kau pasti sudah bisa melihat lagi kan? Berterimakasihlah pada Tuhan nak, karena ini semua mukjizat dariNya. Maafkan semua kesalahan emak, maafkan karena emak selama ini tidak bisa membuatmu bahagia. Sekarang emak akan pergi jauh, tak usah kau cari emak. Maaf karena emak tidak berpamitan denganmu. Hanya 1 pesan  dari emak, jadilah anak yang sholeh serta selalu rendah hati. Semoga kau bahagia.....

                                                                             Emak 



Selesai


Hananmedia.com berusaha memberikan informasi yang lengkap, berimbang, dan jujur. Menuliskan review yang mengandung 'story and value' berdasarkan pemikiran, opini, dan pengalaman pribadi.

17 komentar

Write komentar
May 20, 2012 at 8:17 AM delete

Gambar penutupnya ngena banget ke hati, cerpennya juga keren :)

Reply
avatar
May 20, 2012 at 1:01 PM delete

Gambarnya nemu di page FB padahal..
haha.. makasih :)

Reply
avatar
May 20, 2012 at 1:03 PM delete

Haha.. makasih :)
blognya kamu jg bagus ko.. :)

Reply
avatar
anggi
AUTHOR
May 20, 2012 at 4:13 PM delete

salam kenal, kunjungan pertama
itu quote dri foto terakhir "makjleb banget"

orang tua memang tak mempunyai pengetahuan lebih,mereka hanya memikirkan anak-anaknya bisa lebih baik dari mereka, itu saja #aku suka

Reply
avatar
May 20, 2012 at 5:58 PM delete

Tes..tes...tes...
Air mataku mengalir ketika membacanya T_T

Cerpennya penuh makna.

Salam kenal :)
Kunjungan perdana juga

Reply
avatar
May 20, 2012 at 6:03 PM delete

saya suka cara menyampaikan pesannya
tapi sayangnya ibunya harus bunuh diri, sangat disayangkan

Reply
avatar
May 20, 2012 at 6:18 PM delete

makasih udah mbaca cerpennya.. sampe menangis lagi..
salam kenal juga :)

Reply
avatar
May 20, 2012 at 6:21 PM delete

Hehe.. aku jg gak tau dulu dapet ide kayak gitu dari mana :D

Reply
avatar
May 20, 2012 at 6:28 PM delete

Miris tapi emotikonnya ketawa... aneh memang :D

Reply
avatar
NF
AUTHOR
May 21, 2012 at 3:57 PM delete

sedih banget, awal2 ceritanya di sadur dari Malin Kundang ya, tetapi di ujungnya si emak bukannya mengutuk malah memberikan matanya :(

Reply
avatar
May 21, 2012 at 4:47 PM delete

haha.. awalnya emang dapet inspirasi dari malin kundang cuman tak bikin beda endingnya :D

Reply
avatar
zhi cun lee
AUTHOR
May 23, 2012 at 5:29 PM delete

cerita yg sangat mengharukan..... tpi endingnya mengerikan.,....

Reply
avatar

Setelah baca, jangan lupa tinggalkan jejak ya kawan.. :)